Biasakan Budaya Tertib

Kebiasaan tertib di madrasah dapat kita lihat dan ajarkan pada saat budaya mengantri untuk berwudhlu. Mengantri memiliki implikasi luas dan berjangka panjang. Dalam dunia pendidikan, budaya mengantri dapat mengarahkan tingkat kesadaran social yang tinggi pada anak-anak. Sebuah kesadaran tentang betapa pentingnya menghargai hak orang lain dalam kehidupan social.
Kesadaran peserta didik untuk terbiasa mengantri merupakan hasil pendidikan yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Budaya mengantri tidak bisa dilatihkan kepada anak hanya dalam waktu satu atau dua bulan saja. Di samping itu keteladanan dari semua pihak di lingkungan madrasah merupakan contoh tauladan yang baik bagi anak-anak untuk membudayakan mengantri.
terbersit pertanyaan mengapa budaya mengantri dinilai penting ?
Beberapa hal yang dapat ditunjukkan sebagai alasan yang mendasari pentingnya budaya antri diantaranya:
- Dengan mengasumsikan bahwa kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja untuk bisa main bola atau bisa Matematika, tetapi budaya mengantri perlu waktu lebih dari itu agar anak bisa mengikuti budaya antri dalam aturan kehidupan sosial yang sebenarnya.
- Pada kenyataannya tidak semua anak akan menjadi ahli matematika. Sebagian dari mereka ada yang menjadi seniman, penari, atlet, musisi, sosiolog, dan lain-lain. Walaupun dalam kehidupan bermasyarakat selalu butuh matematika namun pemahaman tentang matematika bukanlah menjadi prioritas dalam kehidupan mereka. Mereka harus fokus dalam menekuni ilmu yang menjadi minat dan bakat mereka. Jadi, mereka tidak semuanya harus pintar Matematika. Namun budaya mengantri mutlak dibutuhkan bagi mereka semua dimanapun mereka tinggal dan berpijak..
- Saat anak-anak tumbuh dewasa, mereka lebih membutuhkan pelajaran Etika dan Moral daripada pelajaran matematika.
Sebenarnya selain belajar tentang budaya mengantri, belajar matematika dan pelajaran lainnya juga sangat penting. Semua bidang kehidupan tidak bisa terlepas dari matematika. Namun demikian budaya mengantri memiliki manfaat baik secara pribadi maupun dimensi sosial yang lebih luas. Beberapa manfaat budaya mengantri di antaranya:
- Anak belajar manajemen waktu. Jika ingin mengantri paling depan. Mereka harus persiapan lebih awal dan dating lebih awal.
- Anak belajar bersabar menunggu giliran ketika mereka mendapatkan antrian di tengah atau di belakang.
- Anak belajar menghormati hak orang lain yang datang lebih dulu.Orang yang datang lebih dulu berhak untuk mendapatkan pelayanan terlebih dahulu. Dan hak mereka harus dihargai dan dihormati oleh orang-orang yang dating setelahnya.
- Anak belajar disiplin, setara, tidak menyerobot hak orang lain.
- Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bias dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri.Kegiatan kreatif yang biasa dilakukan sambil mengantri adalah membaca buku atau mengerjakan tugas lainnya.
- Anak belajar bersosialisasi menyapa dan berkomunikasi dengan orang lain di antrian.
- Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
- Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika dating terlambat harus menerima konskewensinya di antrian belakang.
- Anak belajar disiplin, teratur, dan menghargai orang lain.
- Anak belajar memiliki rasa malu, jika menyerobot antrian dan hak orang lain.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya budaya mengantri. Begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari budaya mengantri ini. Namun demikian tidak semua orang tahu dan mau menyadari tentang betapa pentingnya budaya mengantri itu. Dalam kehidupan sosial di sekitar kita masih sering kita jumpai tindakan-tindakan “masa bodoh” yang mengabaikan hak orang lain.
Mereka tidak mau mengantri dengan berbagai alasan. Yang lebih menyedihkan lagi apabila kita menjumpai orang tua yang justru menjerumuskan anaknya agar tidak usah mkengantri dan berupaya menyerobot hak orang lain. Beberapa bentuk tindakan yang kurang baik bagi perkembangan anak dalam budaya mengantri di antaranya:
- Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk “menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi dan berkata “sudah cuek saja, pura-pura gak tahu saja.”
- Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata “Dasar Penakut” karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
- Ada orang tua yang memakai taktik/alasan agar anaknya diberi jatah antrian terdepan dengan alasan anaknya masih kecil, capek, rumahnya jauh, orang tidak mampu, dan lain-lain.
- Ada orang tua yang marah-marah karena dia atau anaknya ditegur gara-gara menyerobot antrian orang lain lalu mengajak berkelahi si penegur.
Demikian pentingnya budaya mengantri, untuk itu mari kita biasakan mengantri dalam kehidupan kita. Anak-anak perlu dikenalkan dan dibiasakan terus-menerus seperti halnya budaya antri pada saat wudhlu seperti di Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Sragen. Jadi setiap sebelum sholat Dhluhur atau sholat Dhuha, anak-anak mengantri dengan tertib menunggu gilliran untuk bisa wudhlu dan sholat tepat waktu.
Hal ini juga sangat penting untuk biasa mengantri baik di lingkungan sekolah, di rumah, maupun di masyarakat. Dengan budaya mengantri semoga kehidupan kita menjadi lebih baik. Kuncinya, mari kita saling menghargai dan menjunjung tinggi hak kita dan hak orang lain
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- PENERIMAAN MURID BARU MADRASAH MTsN 4 SRAGEN TAHUN 2026/2027
- PENERIMAAN MURID BARU MADRASAH ( PMBM ) MTsN 4 SRAGEN
- HARI GURU NASIONAL
- Pentingnya Kespro remaja di MTsN 4 Sragen
- Pembiasaan Jum
Kembali ke Atas



